4/25/2016

Persiapkan pikiran Anda untuk Kota ruang terbuka

Menurut Ali Madanipour dalam Zahnd (1999), kota adalah kumpulan berbagai bangunan dan artefak serta tempat untuk berhubungan sosial. Lebih lanjut Zahnd (1999) mengatakan bahwa kota adalah salah satu ungkapan kehidupan manusia yang mungkin paling kompleks.

Bagaiman jadinya apabila lingkungan fisik yang dihuni oleh manusia penuh atau sesak ?. Tentu saja hal ini akan mengakibatkan dampak sosial berupa meningkatnya agresifitas penghuni. Menurut Hyugen (dalam Daldjoeni, 1992) mengatakan bahwa overcrowding merupakan pendorong agresi pada manusia kota yang padat-sesak.

Pertumbuhan bangunan bertingkat tinggi, jalan, perumahan, pertokoan, mall dan pusat bisnis lainnya semakin kencang dan sama sekali tidak diringi dengan pembuatan ruang terbuka hijau. Malah semakin menggusur lahan terbuka yang ada. Hujan deras yang pasti diiringi dengan banjir menjadi pertanda rendahnya kemampuan daya serap kota terhadap air yang turun sehingga menggenang beberapa saat dalam bentuk bencana banjir untuk kemudian mengalir ke sungai.

Ruang terbuka termasuk dalam kategori ruang luar, yaitu ruang yang berada di luar ruangan, menurut Yoshinobu Ashihara (1986:11,19), ruang luar adalah ruang arsitektural tanpa atap.
Ruang luar memiliki fungsi sesuai tujuan manusia dalam memanfaatkan ruang luar tersebut. Rustam Hakim (1993:18) menyebutkan beberapa fungsi ruang luar dari segi sosial, ekologi dan arsitektural; sebagai tempat bermain, berolahraga, tempat bersantai, tempat komunikasi sosial, tempat peralihan, tempat menunggu, paru-paru lingkungan, untuk mendapatkan udara segar, dll. Clare Cooper Marcus (2003:6.9-11) mengemukakan bahwa keberadaan ruang luar sebagai tempat terjalinnya hubungan sosial nonformal atau santai dalam masyarakat bisa memperkuat hubungan sosial, menambah rasa tanggung jawab sosial dan meningkatkan keamanan lingkungan.



Upaya merubah dan mempercantik wajah kota juga dilakukan oleh Walikota Surabaya, Ibu Trimahasrini. Beliau membuat berbagai taman kota di berbagai lokasi di Surabaya, yaitu Taman Prestasi, Taman Bungkul, Taman Kalimantan, Taman Apsari, Taman Flora, Taman Sulawesi, Taman Yos Sudarso dan masih banyak lagi taman-taman yang ada dikota Surabaya tersebut. Berkat kerja kerasnya ini beliau mendapatkan banyak penghargaan di tingkat nasional bahkan Internasional.


Selain upaya membuat taman skala kota, di tingkat rumah bisa diupayakan berbagai cara untuk menciptakan rumah yang hemat energi dan bisa menjadi solusi dari permasalahan lingkungan yang ada dengan menjadikan lingkungan rumah sebagai daerah tangkapan air skala kecil.















Nah, bagaimana dengan jalan raya?. Kita bisa meniru Jepang yang sangat memperhatikan jenis-jenis pohon yang tumbuh di sekitar jalan raya. Pohon peneduh di jalan raya dipilih yang berwarna indah dan berubah saat pergantian musim. Mereka menanam pohon maple, sakura, atau pohon icho. Indonesia bisa meniru merahnya pohon maple dengan pohon flamboyan atau pohon lain yang bisa berubah warnah. Keberadaan pohon yang indah ini akan meningkatkan kecintaan warga akan lingkungan sehingga masyarakat akan merasakan manfaat langsung dan kemudian ikut menjaga keberadaan pohon dan akan mempercantik lingkungan di sekitar kawasan tersebut.
 

Bagi masyarakat umum selaku penghuni kota hendaknya tidak menutup seluruh site rumahnya dengan perkerasan, menyisakan minimal 30% dari lahan rumahnya sebagai ruang tanpa perkerasan dan bangunan, membangun sumur resapan sebagai tempat memanen air hujan dan menjaga ketersedian air bersih saat musim kemarau, tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, ikut menjaga kebersihan sungai bagi warga yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai. Serta tidak menutup daerah aliran sungai dengan bangunan.

Sumber : Inayati Fatimah, ST., MSc. Dosen UNU Surakarta diambil dari www.Academia.edu tanggal 24 April 2016

Popular Posts