1/19/2016

Budaya mempengaruhi akan passion kita

Baru sejam yang lalu saya mendapatkan komentar dari teman blogger juga mengenai blog ini. Beberapa dari mereka menanyakan bahwa apakah saya menyukai travel atau perjalanan?. Jika anda membaca semua artikel saya maka Anda akan mempunyai kesimpulan bahwa saya adalah orang suka dengan nuansa jalan-jalan.

Lain halnya tentang pacar saya. Dengan kemampuan seorang psikolog yang mampu membaca kebiasaan saya apalagi ditambah dengan keseharian saya sering bersamanya. Penilaian tentang saya yakni saya tidak suka jalan-jalan. Hmm,, mana yang betul?.

Sebenarnya tidak begitu juga. Percaya atau tidak jalan-jalan adalah passion (hobi) aku. Sayangnya banyak yang tak bisa aku jelaskan pada pacarku. Sebagai seorang yang lahir dengan peraturan budaya jawa yang ketat seperti saya merupakan hal biasa karena melakukan pemberontakan-pun percuma. Mau marah-pun tidak ada gunanya malah nantinya gak bisa mengambil keputusan yang bijak.

Saya juga tidak bisa menyalahkan diri saya karena saya terlahir sebagai anak bungsu yang selalu dimanja. Hanya saja saya akan lebih menyalahkan diri saya apabila saya mati dengan kemiskinan pengalaman. Bagaimana caranya agar kamu bisa jalan-jalan jauh seperti ke Batam, Vietnam, NTB?. Apakah Anda pernah membaca sejarah tentang RA. Kartini? semua aturan saat itu berdasarkan aturan yang dogmatis menurut saya. Yah, beliau melakukan hal-hal perjuangan untuk menumbuhkan kepercayaan kepada orang lain termasuk kedua orang tuanya bahwa adanya kemampuan wanita. Seperti halnya yang pertama saya lakukan adalah menumbuhkan kepercayaan dahulu meski berbohong untuk mengenai jalan-jalan jauh yang pernah saya lakukan. Dengan begitu saya bisa membuktikan bahwa "I`m Ok mom, dad". Kekhawatiran dan kasih sayang ibu saya yang membuat saya tidak terjerumus pergaulan anak sekarang.

Mungkin kalau melihat dari segi agama mungkin dosa saya sudah numpuk. Seperti perjalanan yang saya lakukan di bulan kemaren ke Banyuwangi dengan pacar saya. Saya berbohong dengan alasan saya akan pergi ke daerah Malang untuk menemui teman saya yang akan wisuda.

Sejak saya belum menginjak sekolah saya sudah berpetualang dengan bibi saya. Mulai dari menjelajahi daerah Surabaya, menjelajahi Jawa Timur, pergi berkunjung dan wisata ke Jakarta, dll. Namun ingatan saya sudah mulai pudar dengan hal itu semua. Kecerian yang saya rasakan bersama dengan keluarga begitu melekat. Mungkin saya setuju dengan perkataan "piye?. jek penak jamanku toh?".

Saya tidak mau memakai foto nanti muncul di list post populer saya :p .

Terima Kasih.

Popular Posts